Keretabaru ini berkapasitas penumpang sebanyak 400 tempat duduk per rangkaian (trainset), terdiri atas delapan kereta eksekutif, satu kereta makan (restorasi), dan satu kereta pembangkit. "Kami berharap rangkaian baru KA Argo Parahyangan ini sebagai salah satu alternatif moda transportasi yang nyaman," katanya.
Nahsekarang akan dibahas mengenai denah tempat duduk semua kelas di kereta. Denah atau posisi tempat di kereta berbeda beda tergantu kelasnya. Jika anda memprioritaskan kenyamanan, anda bisa pilih kelas eksekutif. Sebagai informasi, eksekutif sendiri memiliki dua model posisi tempat duduk.
Kamimencoba mengabadikan perjalan Kereta Api di Indonesia, sebagai rasa cinta kami terhadap kereta api, dan ikut mencatat perjalanan sejarah kereta api di
Kereta ini berkapasitas penumpang sebanyak 400 tempat duduk per rangkaian (trainset), yang terdiri dari delapan kereta eksekutif, satu kereta makan (restorasi), dan satu kereta pembangkit," katanya. Berikut jadwal perjalanan KA Argo Parahyangan dengan rangkaian baru : 1.
Pemandangandari Kereta Api Argo Parahyangan SDN Surveyor Indonesia Kalau beruntung singgah di Stasiun Purwakarta, kita bisa melihat kuburan kereta api ini. Disebut kuburan kereta api karena gerbong kereta api yang sudah tidak terpakai lagi ditumpuk di tempat ini.
TABEL1 PERKEMBANGAN PENUMPANG KERETA ARGO PARAHYANGAN TAHUN 2010 -2013 Tempat Duduk Tingkat Okupansi Tahun Tersedi % Terisi a 2010 652,498 592,434 90.79% 2011 617,454 436,249 70.65% 2012 582,400 441,930 75.88% 2013 644,106 439,003 68.16% Sumber: PT. KAI DAOP 2, Bandung, 2014 Dari tabel 1 diatas menunjukkan jumlah penumpang Kereta Api Argo
DirekturUtama KAI Edi Sukmoro mengatakan waktu tempuh KA Argo Parahyangan Excellence Jakarta Bandung atau sebaliknya hanya 2 jam 50 menit dibandingkan KA Reguler yang memakan waktu 3,5 jam. Rencananya mulai beroperasi 1 Oktober 2019. "Tarifnya untuk kelas eksekutif Rp 150 ribu, sedangkan kelas premium Rp 110 ribu," jelas Edi di tempat yang sama.
c4rWr. Tips Traveling – Kereta Api Argo Parahayangan merupakan salah satu moda transportasi umum yang melayani rute dari Jakarta – Bandung PP sejak tahun 2010, kereta ini memiliki beberapa jenis kereta dan kelas, diantaranya ada Argo Parahyangan Biasa, Argo Parahyangan Priority, Argo Parahyangan Premium, Argo Parahyangan Excellence, dan Argo Parahyangan Luxury. Empat nama jenis kereta tersebut melayani kelas eksekutif dan ekonomi, Kelas ekonomi menjadi salah satu yang diminati penumpang, karena harganya yang murah dan eksekutif, ditambah waktu tempuh Argo Parahyangan Excelence selama 2 Jam 50 menit, lebih singkat 25 menit dari kereta Argo Parahyangan lainnya. Wikipedia Buat kamu yang memiliki rencana liburan dari Jakarta mau ke Bandung, dan menggunakan Argo Parahyangan, berikut ini Tips Traveling Memilih Kursi Kereta Argo Parahyangan yang baik. 1. Kursi Dekat Jendela Kereta Api Argo Parahyangan kelas ekonomi memiliki konfigurasi sama dengan kelas eksekutif, yakni 2-2 jika kamu suka, duduk disamping jendelah kamu bisa memilih kode huruf A dan D. Kamu dapat menyaksikan berbagai macam pemandangan yang indah terutama ketika melalui wilayah perbukitan, kamu bisa mengambil video dan foto dari jendela kereta. 2. Kursi dekat lorong Ketika kamu berpergian sendirian, kamu harus memperhatikan beberapa trik agar nyaman, nyaman disini tidak hanya untuk kamu, tetapi juga untuk orang yang ada disebelahmu, terutama jika kamu sering pergi ke toilet, sebaiknya pilih kursi dekat lorong asile dengan kode huruf B dan C. Mengingat jarak antara kursimu dengan kursi depan tidak terlalu lebar, pemilihan kursi di dekat lorong tidak akan membaut orang yang duduk di sebelahmu terganggu ketika kamu ingin ke toilet, sama-sama nyaman. 3. Kursi Tengah Saling Berhadapan Jika kamu pergi berkelompok atau rombongan keluarga besar, dan ingin duduk berdekatan bahkan saling berhadapan kamu dapat memilih nomor kursi 10A, 10B, 11A, 11B, atau 10C, 10D, 11C, 11D untuk kereta api Argo Parahyangan Excellence dan Premium Kursi tersebut berada di bagian paling tengah dan saling berhadapan, ruang untuk kaki juga luas sehingga kamu lebih nyaman bergerak, ditambah lagi kamu membawa tidak terlalu banyak, maka ada ruang yang cukup untuk meletakan barang-barang tersebut. 4. Kursi Di Ujung Lorong Kursi di ujung lorong yang bernomor 1-2 ABCD dan 19-20 ABCD, terletak dekat dengan toilet, pintu keluar dan ada ruang yang lapang untuk kaki atau meletakan barang. Karena dekat dengan pintu keluar akan banyak orang berlalu-lalang baik untuk pergi ke toilet, pindah ke gerbang lain, dan para petugas yang sedang memantau keadaan atau menjajakan makanan, kamu bisa memilih kursi ini sesuai kebutuhanmu.
BANDUNG - PT Kereta Api Indonesia KAI menambah 10 fasilitas baru untuk Kereta Api Argo Parahyangan. Ini dilakukan guna memberikan kenyamanan bagi para pengguna moda transportasi massal tersebut. "Fasilitas pada rangkaian KA baru tersebut terus kami tingkatkan untuk memenuhi harapan pengguna jasa KAI," ujar Manajar Humas PT KAI Daop 2 Bandung, Joni Martinus dalam siaran tertulisnya, Jumat 2/3. Kereta baru ini berkapasitas penumpang sebanyak 400 tempat duduk per rangkaian trainset, terdiri dari delapan kereta eksekutif, satu kereta makan restorasi, dan satu kereta pembangkit. Ada 10 fasilitas baru yang dapat dinikmati masyarakat untuk KA Argo Parahyangan baru ini, pertama bodi stainless steel yang lebih tahan karat dan cat stripping yang minimalis. Kedua, penambahan jumlah toilet. Pada masing-masing kereta atau gerbong ada dua buah yang terletak bersebelahan. Ini berbeda dengan toilet pada kereta- kereta yang ada sebelumnya, yakni toilet hanya ada di salah satu sisi saja. Ketiga, para pelanggan setia KAI juga semakin nyaman dengan adanya sandaran kaki yang lebih fleksibel, lampu tidur dan baca, meja mini yang bisa dilipat di sandaran tangan, serta bagasi kabin yang ada pembatasnya untuk tiap-tiap penumpang. Keempat, multimedia. Sebanyak empat buah layar monitor terpasang di dalam setiap kereta. Dua unit monitor berukuran 32 inci terpasang di ujung depan dan belakang, serta dua layar berukuran 19 inci menggantung di langit-langit kereta. Kelima, audio jack. Untuk mendengarkan suara dari monitor tersebut, penumpang tinggal memasukkan earphone atau headset ke lubang audio jack yang ada di setiap tempat duduk. Fasilitas ini diberikan KAI untuk memenuhi privasi setiap penumpang akan suara yang keluar dari tayangan monitor tersebut. Keenam, meja lipat. Pada setiap tempat duduk, penumpang bisa menggunakan meja lipat yang diambil dari sandaran tangan masing-masing. Ketujuh, mushala. Di dalam kereta restorasi, KAI memfasilitasi penumpang yang hendak menjalankan ibadah salat dengan menyiapkan ruang mushala yang lebar, dilengkapi dengan rak berisi sarung dan mukena serta cermin yang menempel di dinding. Delapan, CCTV. Untuk menunjang keselamatan dan keamanan, rangkaian kereta baru ini dilengkapi dengan dua buah CCTV dan dua buah tangga yang menempel di masing-masing kereta atau gerbong untuk pijakan keluar kereta jika diperlukan dalam kondisi darurat. Selain itu, di lantai kereta juga disematkan jalur evakuasi yang bisa berpendar dalam kondisi gelap. Sembilan, smoke-detector. Kereta baru ini tidak akan membiarkan penumpang menikmati asap rokok. Jadi apabila ada seseorang yang merokok di sana, alarm secara otomatis akan berbunyi. Terakhir, naik dan turun bisa di Stasiun Kiaracondong. Penumpang bisa naik dan turun dari Stasiun Kiaracondong, padahal sebelumnya, stasiun ini digunakan untuk kereta kelas ekonomi. Tapi khusus untuk kereta eksekutif Argo Parahyangan ada pilihan naik di Stasiun Kiaracondong. "Kami berharap rangkaian baru KA Argo Parahyangan ini sebagai salah satu alternatif moda transportasi yang nyaman," katanya. sumber antara
Di tahun 2019, saya sendirian ke Bandung dengan KA Argo Parahyangan. Tahun 2022 ini, saya mengajak mama yang sudah berusia 84 tahun untuk ikut Bandung. Teman mengomentari kalau saya nekat bener mengajak orangtua ke Bandung di akhir pekan. Mengingat Bandung sekarang sama ramainya seperti sebelum Covid. Akhirnya saya memutuskan untuk cuti hari Kamis hingga Jumat. Jadi, lumayan lah pas di hari-hari kerja dan pulang di hari Sabtu balik ke Jakarta. Yang jadi persoalan tentunya buat saya karena jarang banget traveling, apa ada lift ya di stasiun Gambir sama Stasiun Bandung? Saya iseng email ke CS KAI menanyakan hal ini. Jawaban dari mereka bisa langsung meminta tolong pada petugas yang ada di tempat. Wah, jawabannya menggantung ya... Tapi, first thing first, mari pesan tiket perjalanan terlebih saya, kita bisa memilih tempat duduk yang diinginkan di dalam kereta. Tapi saat itu saya telah memesan tiket dengan rentang waktu yang lumayan jauh. Kali ini, tiket baru saya pesan kurang lebih seminggu sebelum tanggal keberangkatan. Sebenarnya bisa memilih mau duduk di mana, selama masih ada ketersediaan. Seperti pas saya pesan, kursi telah banyak terisi oleh penumpang lain. Jadi, terima pasrah saja. Tapi, saya mau tetap bikin catatan kecil nih, seandainya di lain waktu ada kesempatan pergi ke Bandung lagi. Catatan ini jadi rangkaian dari yang berikutPergi sendirianKamu tipe yang maunya foto-foto pemandangan dari jendela kereta api atau justru lebih memilih tempat duduk yang tidak dekat jendela? Tempat duduk yang dekat dengan jendela adalah bagian A & D. Jika kamu lebih suka dekat jendela, maka tempat duduk dengan pemandangan yang okeBerangkat dari Jakarta menuju Bandung; pilih tempat duduk bagian dari Bandung menuju Jakarta; pilih tempat duduk bagian jelas lebih memilih duduk dekat jendela, karena lokasi electric plugs ada di dekat dengan manula dan bawa kursi perjalanan sebelumnya, saya mencoba juga beli tiket untuk kelas ekonomi. Dan buat saya sih kurang nyaman. lutut mentok sama kursi yang di depan. Kalau duduk dekat jendela, alamat yang di sebelah harus berdiri dulu sebelum kita bisa keluar mau ke restroom misalnya. Karena saya pergi sama ibu yang sudah sepuh, saya memilih kelas Eksekutif. Hanya beda sedikit dengan kelas ekonomi, tidak sampai Rp lah. Keuntungannya, jarak antara tempat duduk yang kita tempati dengan seat yang berada di depan kita itu lebih luas. Ya, gak luas-luas amat, tapi termasuk yang membuat nyaman. Mengingat durasi perjalanan yang memakan waktu kurang lebih sekitar 3 jam. Saya sempat ragu apakah membawa kursi roda itu masuk dalam kategori barang masuk bagasi? Ada sih peraturan mengenai bagasi di sini untuk jelasnya. Jadi, saya kudu memastikan kursi roda yang saya bawa bisa dilipat sepanjang perjalanan, agar tidak mengganggu penumpang lain. Untuk keberangkatan saya mendapatkan tiket gerbong 1, seat 1A & 1BUntuk kembali ke Jakarta dari Bandung, saya mendapatkan tiket gerbong 1, seat 3C & you can see, not a best seat buat melihat-lihat pemandangan. Tapi, mari kita lewatkan saja bagian itu. GAMBIR - BANDUNG ETD belum tahu sebenarnya lokasi lift di sebelah mana, saya memutuskan berangkat lebih pagi. Jam saya sudah mencari-cari taksi dong lewat apps. Kami pun turun di area keberangkatan. Di area ini banyak banget tempat makan dan nongkrong antara lain Starbucks, Bakmi GM dan macem-macem deh. Berikut lokasinya KAI ACCESSBelajar dari pengalaman yang sebelumnya, saya pun install KAI ACCESS. Tiket yang sebelumnya sudah saya beli lewat aplikasi lain, bisa ditambahkan di aplikasi KAI ACCESS. Tiket yang aktif akan muncul di apps KAI ACCESS seperti ini Pada hari keberangkatan saya cetak e-ticket. Walau kata-katanya dicetak, tapi maksudnya tidak perlu dicetak dalam bentuk fisik. Dalam apps, akan ada barcode untuk discan petugas nanti. Click E-Boarding Pass yang akan tersedia pada saat 2 jam sebelum keberangkatan. Penampakan tiketnya seperti ini. Nanti barcode akan discan petugas sebelum kita bisa masuk ke area tunggu. Jangan lupa siapkan KTP masing-masing ya jika yang berangkat lebih dari 1 orang. Karena sekarang ini masih dalam situasi pandemik, pastikan juga kalian sudah mendapatkan vaksinasi booster. Tidak usah ribet cetak sertifikat vaksin, karena akan ketahuan saat petugas scan barcode tiket. Sambil menunggu tiket dan identitas diri dicek, saya sekalian bertanya, apakah ada lift? Ternyata ada, walau hanya 1 di area kedatangan. Tapi petugas langsung membantu mendorong kursi roda ibu saya hingga kami sampai di peron. Bapak petugas juga membantu cek ke rekan-rekannya, di area mana kami bisa menunggu agar tidak terlalu jauh dari gerbong keretanya. Satu-satunya lift di stasiun GambirKebetulan juga, menunggunya tidak terlalu jauh dari lift ini; yang ternyata hanya ada lift ini saja. Saat pulang nanti, kami juga menggunakan lift ini. Untuk naik kereta, menemukan tempat duduk, semuanya siap membantu. Mulai dari petugas kebersihan, porter, petugas keamanan sampai kru kereta api juga langsung turun tangan. Dan kami lega banget karena di belakang tempat duduk ada area untuk meletakkan kursi roda. Kekurangannya, jendelanya gelap ya, jadi susah mau foto pemandangan HALAH!. Kekurangan lain adalah kami terlalu jauh untuk ke restroom dalam gerbong yang sama. Namuuuun, kami dekat dengan restroom di gerbong belakang kami. Jadilah sebelum kereta melaju kami pun buru-buru menggunakan restroom. TIBA DI BANDUNGSampai di Bandung pun, ada petugas yang membantu ibu saya turun dari kereta dan membantu mendorong kursi roda. Tapi di sini kami ada kesalahan komunikasi. Karena saya tidak menyangka dijemput sama teman, saya hanya mendengar sambil lalu perkataan petugas kalau kami akan keluar dari pintu Selatan. Padahal saya foto loh, pas mau keluar, dan kami ini sebenarnya keluar dari pintu MAXX COFFEE - PINTU UTARA Stasiun BandungMenuju pintu keluar dari gerbang utara ini melewati antara lain MAXX COFFEE. Tapi karena sudah lega sampai di Bandung dengan selamat, saya tidak bertanya lebih lanjut. Travelator Stasiun BandungDan saya senaaang banget, di stasiun Bandung ini ada travelator. Jadi memudahkan bagi penumpang yang menggunakan kursi roda. Seorang teman juga sudah menginformasikan hal ini sih dan setelah melihat sendiri rasanya wow, salut deh sama Stasiun KAI Bandung. !Pintu Utara - bisa keluar dari sini, bisa masuk juga dari sini. Supaya jangan lupa di lain hari, saya sematkan juga deh di sini pintu utara Stasiun Bandung. PULANG dari BANDUNG ke JAKARTAKarena sudah yakin akan naik KA dari pintu Selatan, maka sekitar 1,5 jam sebelum waktu keberangkatan, saya dan mama pun menuju stasiun KAI Bandung. Jelas, sudah tidak perhatian lagi kalau nama jalannya pun St. Bandung lewat Pintu SelatanSaya baru sadar dong, kami masuk dari gerbang yang berbeda karena tipe-tipe penumpangnya lebih terlihat penduduk lokal daripada turis dadakan seperti saya. Dari barang bawaan terlihat lebih sedikit, seperti tas selempang atau ransel kecil. Sementara turis-turis lokal kayak saya banyak yang bawa koper. Lalu cara mereka lari-lari masuk ke peron, itu seperti kalau saya berusaha mengejar busway yang akan masuk ke terminal. Tapi sudah terlanjur, jadi on the spot saya langsung cetak e-boarding pass seperti waktu keberangkatan dan ikut mengantri bersama penumpang lain. Pas petugas scan tiket dan cek KTP, dia langsung memberi petunjuk, begitu lewat pemeriksaan langsung ke sebelah kanan. Tapi berbeda dengan saat kedatangan ketika banyak petugas yang jaga, kali ini tidak ada. Saya pun harus mendorong sendiri kursi roda mama hingga ke travelator. Makin senewen karena di belakang saya gedebak gedebug para penumpang yang berusaha agar tidak ketinggalan kereta. Dan mereka permisi untuk melewati saya, kebayang kan jalur travelator yang sudah penuh dengan kursi roda dan mereka berusaha agar bisa lewat? Rusuh lah pokoknya situasinya, mereka panik dan saya juga jadi senewen. Ya, memang kursi rodanya bisa dikunci posisinya, tapi bukan berarti gampang digeser ke kiri dan ke kanan. Karena posisi travelator ini kan sedang naik ke atas, bukan dalam keadaan rata yang aman damai sejahtera. Lalu ketika sudah hampir tiba di ujung travelator, saya melirik ke sebelah kanan. Ada cowok yang berdirinya mepet banget, sepertinya dia tengah bersiap untuk tancap gas menguber kereta. Saya langsung minta tolong untuk membantu mendorong kursi roda begitu tiba di ujung travelator. Begitu sampai, kami berdua mengerahkan tenaga mendorong kursi roda. Dan ketika saya menengok untuk mengucapkan terima kasih, cowok tersebut sudah kabur. Semoga dia tidak ketinggalan kereta gara-gara menolong saya dan mama ya...Setelah kehebohan tersebut, saya langsung bahagia banget begitu melihat ada petugas. Saya memperlihatkan tiket dan ia pun mengambil alih mendorong kursi roda. Kami diantarkan sampai masuk ke dalam gerbong KA Argo Parahyangan. Dan kami masih punya waktu 45 menit untuk bersantai. Dari tempat duduk 3C & D. Sayangnya kali ini tempat duduk kami terletak jauh dari restroom, padahal terletak di gerbong yang sama. Saya pun terpaksa menitipkan kursi roda pada penumpang di kursi 1C. Kami sendiri mendapatkan tempat duduk di 3C & 3D. Untungnya, bapak di kursi 1C tidak keberatan kami menitipkan padanya. Jadi, jika membawa kursi roda, memang paling aman mendapatkan tempat duduk paling belakang atau paling depan. Yang saya hapal yang paling depan no 1A & saat sampai di stasiun KeretaWalau barang bawaan tidak banyak, sebaiknya sewa saja porter. Mereka akan dengan senang hati memberi informasi, di mana area yang banyak tempat makan, musholla, mini market sampai kursi pijat. Karena tempat makan dan tentu saja oleh-oleh, lebih banyak berada di area keberangkatan. Sekalian juga menanyakan, di mana sebaiknya memanggil taksi. Jangan memanggil taksi di area keberangkatan ya. Kebanyakan mereka berada di area lain, di mana para penumpang baru saja tiba.
Kereta api Indonesia memiliki berbagai macam nama layanan, rute, serta kelas yang diberikan. Salah satu layanan kereta api dengan terdiri dari berbagai kelas ialah kereta api argo parahyangan. Kali ini mari mengenal kereta api layanan ini dengan lebih dalam. Sejarah Mengenai sejarah penamaannya, kereta argo parahyangan ini merupakan gabungan dari pelayanan kereta api argo gede juga kereta api parahyangan. Walaupun pada umumnya, kereta api layanan yang terdapat nama argo pasti hanya tersedia dalam kelas ekonomi. Untuk kereta argo parahyangan ini memiliki berbagai macam kelas kereta api. Dari ekonomi premium hingga eksekutif. Kereta argo parahyangan ini merupakan hasil buah tanggapan dari PT KAI terhadap kekecewaan yang dirasakan masyarakat. Dimana masyarakat kecewa terhadap pemberhentian kereta api parahyangan. Pada akhirnya PT KAI menggabungkan kereta api argo gede dengan kereta api parahyangan hingga menjadi kereta argo parahyangan. Pada awalnya kereta api argo parahyangan ini terdiri dari tiga bahkan empat gerbong kelas eksekutif dan dua hingga tiga gerbong kelas bisnis. Namun, pada saat itu permintaan masyarakat sangatlah tinggi pada kelas eksekutif. Maka sebagian kelas bisnis diganti menjadi kelas eksekutif. Sehingga dari tahun 2011 hingga 2016 kereta argo parahyangan memiliki dua jenis pelayanan. Yakni pelayanan kelas eksekutif serta pelayanan kelas bisnis. Lalu pada tahun 2016, kereta argo parahyangan ditambah dengan kereta kelas ekonomi yang merupakan kereta bekas kereta api mutiara selatan. Namun layanan ekonomi ini lalu diubah menjadi kelas eksekutif dan ekonomi plus. Selanjutnya pada tahun 2017 sampai tahun 2019, kereta argo parahyangan menggunakan kereta kelas ekonomi premium dan kereta kelas eksekutif yang berbhan baja nirkarat. Lalu layanan kereta argo parahyangan ini bertambah pada tahun 2019 dengan menambahkan kelas priority. Lalu pada tanggal 1 Oktober 2019, PT Kai meluncur layanan baru. Layanan ini diberi nama Argo Parahyangan Excellence. Kelebihannya yakni dapat menempuh bandung-jakarta maupun sebaliknya hanya dalam waktu 2 jam 50 menit. Perbedaan kelas kereta api di kereta Argo Parahyangan Dalam kereta argo parahyangan, terdapat berbagai macam kelas diantaranya kelas luxury, kelas priority, eksekutif, dan ekonomi premium/plus. Apa sajakah perbedaan dari masing-masing kelas kereta api ini?. Pertama yakni perbedaan berdasarkan pengaturan tempat duduk. Dimana pada kelas luxury, terdapat 26 tempat duduk yang disusun 102. Kelebihannya ialah kursi tersebut dapat diputar bahkan bisa direbahkan hingga 180 derajat. Lalu pada kelas priority, terdapat 28 tempat duduk yang disusun 2-2. Kelebihannya kursi penumpangnya dapat direbahkan juga diputar. Selanjutnya yakni kelas eksekutif. Pada kelas eksekutif terdapat 50 tempat duduk yang disusun 2-2. Dimana kursi dalam kelas eksekutif sama seperti kelas priority yaitu dapat direbahkan dan diputar. Kelas terakhir yakni kelas ekonomi premium atau juga dikenal dengan kelas ekonomi plus. Kelas ini memiliki 80 kursi penumpang yang disusun 2-2. Dimana sebanyak 40 kursi ke arah depan lalu sisanya yakni 40 kursi menghadap ke arah belakang. Pada kelas ekonomi plus ini, tempat duduknya dapat direbahkan. Itulah beberapa hal mengenai kereta api argo parahyangan. Dari sejarah hingga perbedaan kelas kereta apinya. Kereta argo parahyangan ini melayani rute dari Bandung-Gambir maupun sebaliknya, melalui jalur selatan. Bagi yang sedang mencari tiket kereta argo parahyangan ini, segera pesan tiket kereta api di Ada promo menarik yang menanti loh.
Menurut saya, main ke Bandung itu perlu strategi. Berhubung pembangunan LRT di jalan tol Cikampek masih lama sepertinya pilihan transportasi terbaik dari Jakarta adalah kereta api. Tiga jam. Persis. Enggak pake deg-degan macet di jalan. Naik Argo Parahyangan dari stasiun Gambir kemudian tiga jam sampe tepat waktu di stasiun Bandung. Nah berhubung saya lumayan sering bolak-balik kota kembang buat dagang cilok, saya mau menjawab beberapa keresahan warga ibukota soal “enaknya pilih kursi kereta nomor berapa, ya?”. Biar puas lihat pemandangan, apet kursi yang menghadap maju ke depan, bukan duduk berasa berjalan mundur ditarik kereta. Oh iya ini ekonomi AC ya gaisss, yang harga tiket Jakarta-Bandung nya Rp 80 ribu saja. Tips pilih kursi kereta dari Jakarta ke Bandung – pilih nomor besar, angka belasan. Jadi di kereta Argo Parahyangan itu ada empat kursi yang berhadapan, posisinya persis di tengah gerbong. Coba cek sendiri ya posisi tengah yang mana. Nah, selebihnya kamu bisa pilih nomor yang angka-nya besar. Makin ke bawah, makin ke belakang. Untuk gerbong, ya bebas aja sedapetnya kamu. Kalau dapet gerbong 1 artinya kamu akan lebih cepat keluar dari stasiun. Dia ada di depan soalnya, satu gerbong setelah kantin. Gitu. -pilih huruf kursi D. Terbaik sih ini kalau berangkat naik kereta dari Jakarta menuju Bandung di pagi hari. Kalau kamu pilih posisi A atau B A samping jendela, kamu akan dapet pemandangan gerbong kereta yang ditumpuk-tumpuk di stasiun Purwakarta, sedikit lereng bukit dan lebih banyakan ketutup dinding tanah. Kayak gini Btw, kamu sekarang gak bisa kayak gini ya. Jalur foto-foto berbagai pose udah ditutup karena insiden kebakaran tahun 2017 silam. DIbakar sih tepatnya sama anak-anak alay Sementara kalau posisi C atau D D samping jendela, view kamu akan lebih luas lagi. Kamu bisa lihat jalan tol Cipularang, jurang, sungai, persawahan di lereng-lereng sepanjang jalur kereta. Tol Cipularang di ujung sebelah sana Ini saya kasih contoh ya. Kemarin pas naik kereta dari Gambir Jakarta ke Bandung kota saya pesan tiket 14 C dan 14 D. Keretanya melambat karena jalan menanjak. Itu tipis’ banget sih jembatannya huhu bawah langsung jurang huhuhu Terus kalau mau pulang ke Jakarta, pilih kursi yang kayak gimana ya? Tips pilih kursi kereta dari Bandung ke Jakarta – pilih nomor kecil, angka satuan. Gerbong bebas. Panduan posisi berdasarkan huruf sama seperti kereta dari Jakarta ke Bandung di atas. Biasanya nih, saya pulang ke Jakarta pasti pakai kereta paling malam jadi cari huruf kursi A B C atau D jadi tidak relevan lagi. Ya mau lihat apa, wong udah gelap! Untuk kedua tips-tips di atas semuanya dalam posisi tempat duduk hadap depan. Artinya, kamu akan duduk menghadap arah kereta melaju, bukan sebaliknya kayak punggung ditarik ke belakang. Paham yes? Udah segitu dulu tips memilih kursi di Argo Parahyangan. Semoga makin maksimal jalan-jalan ke Bandung-nya. Wihii~
tempat duduk kereta argo parahyangan